Rabu, 26 Oktober 2011

PERDARAHAN SUBKONJUNGTIVA

SKD : 3B


Pendahuluan
Konjungtiva adalah membran tipis, lembab dan transparan yang melapisi bagian putih dari mata (disebut sklera) dan bagian dalam dari kelopak mata. Konjungtiva adalah lapisan pelin dung terluar dari bola mata.

Konjungtiva mengandung saraf-saraf dan banyak pembuluh darah kecil. Pembuluh darah ini biasanya semakin tampak jelas (karena biasanya tidak tampak pada kondisi normal) jika mereka mem­besar saat terjadi peradangan pada mata. Oleh karena beberapa hal, pembuluh-pembuluh darah ini bisa menjadi rapuh, din ding mereka bisa pecah dengan mudah nya, meng hasilkan perdarahan subkonjungtiva (perdarahan di bawah konjungtiva). Perdarahan subkon jungtiva tampak sebagai plak perdarahan merah terang atau gelap pada sklera.

Penyebab
Kebanyakan perdarahan subkonjungtiva terjadi secara spontan tanpa ada penyebab yang pasti karena perdarahan ini datang dari pembuluh darah konjungtiva. Sering kali orang malah menemukan adanya perdarahan subkonjungtiva ketika ia terbangun di pagi hari ketika bercermin. Kebanyakan perdarahan subkonjungtiva yang spontan justru diperhatikan pertama kali oleh orang lain yang memandang mata kita.

Beberapa hal berikut bisa saja menghasilkan perdarahan subkon­jungtival yang spontan:

* Bersin;
* Batuk;
* Muntah;
* Menggosok mata;
* Trauma (perlukaan);
* Tekanan darah tinggi;
* Kelainan perdarahan;
* Atau kelainan medis yang menyebabkan perdarahan atau meng­hambat mekanisme koagulasi darah.

Perdarahan subkonjungtiva juga dapat terjadi bukan secara spontan dan merupakan akibat dari infeksi mata yang parah, trauma terhadap kepala atau mata, atau setelah operasi mata atau kelopak mata.

Gejala-Gejala
Lebih banyak tidak ada gejala spesifik yang berkaitan dengan suatu perdarahan subkonjungtiva selain melihat/terlihat darah pada bagian putih mata.



* Sangat jarang orang merasakan nyeri saat perdarahan dimulai. Ketika perdarahan pertama kali terjadi, mungkin mengalami rasa tidak nyaman atau “rasa ada sesuatu” di mata atau dibalik kelopaknya. Ketika perdarahan selesai, beberapa orang masih merasakan iritasi yang sedang atau semata-mata rasa tidak nyaman yang mem buatdia selalu membawa pikirannya untuk mengamati matanya sendiri.
* Perdarahan sendiri adalah sesuatu yang pasti, wilayah merah terang yang berbatas tegas berada di sklera. Dalam area itu biasanya seluruh bagian putih tertutupi oleh darah.
* Pada kasus perdarahan subkonjungtiva yang spontan, tidak ada darah yang keluar dari mata. Semisal menempelkan secara halus tisu yang steril pada bola mata, maka tidak ada darah yang menempel pada tisu.
* Perdarahan akan tampak meluas/membesar dalam 24 jam per­tama setelah onset (pertama kali terjadi) dan secara perlahan ber­kurang ukurannya bersamaan dengan darah diserap kembali.

Pemeriksaan dan Tes
Oftalmologi akan menggali riwayat yang diperlukan bahkan sebelum terjadi perdarahan, dan melakukan pemeriksaan mata. Tekanan darah anda bisa jadi juga diperiksa.

Jika trauma adalah penyebabnya, pemeriksaan lebih teliti dengan slit lamp (mikroskop khusus untuk pemeriksaan mata) akan dilakukan.


Terapi
Perawatan Mandiri di Rumah
Biasanya tidak ada terapi khusus yang diperlukan. Air mata buatan yang bisa dibeli bebas di apotek bisa diberikan jika ada iritasi sedang.
Penggunaan aspirin dan ibuprofen sebaiknya dihindari.




Perawatan Medis

Biasanya tidak ada terapi medis diperlukan. Oftalmologis bisa meresepkan Anda air mata buatan untuk meringankan iritasi yang ada.
Jika perlukaan terkait trauma, Oftalmologis anda mungkin perlu memeriksa mata anda guna menemukan kemungkinan kerusakan pada bagian lain mata.

Yang Diperhatikan Selanjutnya

Kondisi ini akan membaik dengan sendirinya dalam satu atau dua minggu. Biasanya, pemulihan terjadi utuh, tanpa adanya masalah jangka panjang, sama seperti memar ringan pada kulit. Seperti memar, suatu perdarahan konjungtiva dapat berubah warna (lebih sering dari merah menjadi oranye kemudian kuning) sebagaimana proses sembuhnya. Bedanya karena pada konjungtiva lapisannya transparan, jadi perubahan warnanya tidak mirip pada memar di mana kita melihat melalui kulit.

PTERYGIUM

SKD : 3A


Definisi
Pterygium merupakan pertumbuhan fibrovaskuler konjungtiva yang bersifat degeneratif dan invasif. Menurut Hamurwono pterygium merupakan Konjungtiva bulbi patologik yang menunjukkan penebalan berupa lipatan berbentuk segitiga yang tumbuh menjalar ke kornea dengan puncak segitiga di kornea. Pterygium berasal dari bahasa yunani, yaitu pteron yang artinya “wing” atau sayap. Insidens pterygium di Indonesia yang terletak digaris ekuator, yaitu 13,1%. Diduga bahwa paparan ultraviolet merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterygium.

Faktor Resiko

1. Usia
Prevalensi pterygium meningkat dengan pertambahan usia banyak ditemui pada usia dewasa tetapi dapat juga ditemui pada usia anak-anak. Pterygium terbanyak pada usia dekade dua dan tiga. Di RSUD AA tahun 2003-2005 didapatkan usia terbanyak 31 – 40 tahun yaitu 27,20%.
2. Pekerjaan
Pertumbuhan pterygium berhubungan dengan paparan yang sering dengan sinar UV.
3. Tempat tinggal
Gambaran yang paling mencolok dari pterygium adalah distribusi geografisnya. Distribusi ini meliputi seluruh dunia tapi banyak survei yang dilakukan setengah abad terakhir menunjukkan bahwa negara di khatulistiwa memiliki angka kejadian pterygium yang lebih tinggi. Survei lain juga menyatakan orang yang menghabiskan 5 tahun pertama kehidupannya pada garis lintang kurang dari 300 memiliki risiko penderita pterygium 36 kali lebih besar dibandingkan daerah yang lebih selatan.
4. Jenis kelamin
Tidak terdapat perbedaan risiko antara laki-laki dan perempuan.
5. Herediter
Pterygium diperengaruhi faktor herediter yang diturunkan secara autosomal dominan.
6. Infeksi
Human Papiloma Virus (HPV) dinyatakan sebagai faktor penyebab pterygium .
7. Faktor risiko lainnya
Kelembaban yang rendah dan mikrotrauma karena partikel-partikel tertentu seperti asap rokok , pasir merupakan salah satu faktor risiko terjadinya pterygium

Patofisiologi
Belum diketahui dengan pasti. Terdapat beberapa teori tentang patogenesis pterygium yang
berkembang sekarang teori degenerasi, inflamasi, neoplasma, tropik ataupun teori yang
menghubungkan dengan sinar UV 7

Klasifikasi
Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia derajat pertumbuhan pterygium
dibagi menjadi :

1 Derajat I : hanya terbatas pada limbus
2 Derajat II : Sudah melewati limbus tetapi tidak melebihi dari 2 mm melewati kornea
3 Derajat III : jika telah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggir pupil mata dalam keadaan cahaya (pupil dalam keadaan normal sekitar 3-4 mm)
4 Derajat IV : Jika pertumbuhan pterygium sudah melewati pupil sehingga mengganggu penglihatan.

Gejala klinik
Pterygium umumnya asimptomatis atau akan memberikan keluhan berupa mata sering berair dan tampak merah dan mungkin menimbulkan astigmatisma yang memberikan keluhan gangguan penglihatan. Pada kasus berat dapat menimbulkan diplopia. , Biasanya penderita mengelukan adanya sesuatu yang tumbuh di kornea dan khawatir akan adanya keganasan atau
alasan kosmetik, Keluhan subjektif dapat berupa rasa panas, gatal, ada yang mengganjal.




Diagnosis Banding
Diagnosis banding berupa pseudopterygium , pannus dan kista dermoid

Penatalaksanaan
Prinsip penanganan pterygium dibagi 2, yaitu cukup dengan pemberian obat-obatan jika pterygium masih derajat 1 dan 2, sedangkan tindakan bedah dilakukan pada pterygium yang melebihi derajat 2. Tindakan bedah juga dipertimbangkan pada pterygium derajat 1 atau 2 yang telah mengalami gangguan penglihatan.





Pengobatan tidak diperlukan karena bersifat rekuren, terutama pada pasien yang masih muda. Bila pterygium meradang dapat diberikan steroid atau suatu tetes mata dekongestan. Lindungi mata yang terkena pterygium dari sinar matahri, debu dan udara kering dengan kacamata pelindung. Bila terdapat tanda radang beri air mata buatan bila perlu dapat diberikan steroid . Bila terdapat delen (lekukan kornea) beri air mata buatan dalam bentuk salep. Bila diberi vasokonstriktor maka perlu control dalam 2 minggu dan bila telah terdapat perbaikan pengobatan dihentikan.


KONJUNGTIVITIS


SKD : 4

Konjungtivitis Bakteri
Konjungtivitis bakteri adalah radang konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri. Mudah menular.
Etiologi
Stafilokok, Streptokok, Corynebacterium diphtheriae, Pseudomonas aeruginosa, Neis seria gonorrhoea, dan Haemophilas influenzae.
Manifestasi Klinis
Konjungtiva bulbi hiperemis, lakrimasi, eksudat dengan sekret mukopurulen terutama di pagi hari, pseudoptosis akibat pembengkakan kelopak, kemosis, hipertrofi papil, folikel, membran, pseudomembran, granulasi, flikten, mata terasa seperti ada benda asing, dan limfadenopati preaurikular. Kadang disertai keratitis dan blefaritis. Biasanya dari satu mata menjalar ke mata yang lain dan dapat menjadi kronik.





Pada konjungtivitis gonore, terjadi sekret yang purulen padat dengan masa inkubasi 12 jam-5 hari, disertai perdarahan subkonjungtiva dan kemosis. Terdapat tiga bentuk, oftalmia neonatorum (bayi berusia 1-3 hari), konjungtivitis gonore infantum (lebih dari 10 hari), dan konjungtivitis gonore adultorum. Pada orang dewasa terdapat kelopak mata bengkak sukar dibuka dan konjungtiva yang kaku disertai sakit pada perabaan; pseudomembran pada konjungtiva tarsal superior; konjungtiva bulbi merah, kemosis, dan menebal; gambaran hipertrofi papilar besar; juga tanda-tanda infeksi umum. Biasanya berawal dari satu mata kemudian menjalar ke mata sebelahnya. Tidak jarang ditemukan pembesaran dan rasa nyeri kelenjar preaurikular. Sekret semula serosa kemudian menjadi kuning kental, tapi dibandingkan pada bayi maka pada dewasa sekret tidak kental sekali.
Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pemeriksaan sediaan langsung dengan pewarnaan Gram atau Giemsa untuk mengetahui kuman penyebab dan uji sensitivitas.
Untuk diagnosis pasti konjungtivitis gonore dilakukan pemeriksaan sekret dengan pewarnaan Metilen Biru yang akan menunjukkan Diplokok di dalam sel leukosit. Dengan pewarnaan Gram terlihat Diplokok Gram negatif intra dan ekstraseluler. Pemeriksaan sensitivitas dilakukan pada agar darah dan coklat.
Komplikasi
Stafilokok dapat menyebabkan blefarokonjungtivitis, Gonokok menyebabkan perforasi kornea dan endoftalmitis, dan Meningokok dapat menyebabkan septikemia atau meningi tis.
Penatalaksanaan
Sebelum terdapat hasil pemeriksaan mikrobiologi, dapat diberikan antibiotik tunggal, seperti gentamisin, kloramfenikol, polimiksin, dan sebagainya, selama 3-5 hari. Kemudian bila tidak memberikan hasil, dihentikan dan menunggu hasil pemeriksaan.
Bila tidak ditemukan kuman dalam sediaan langsung, diberikan tetes mata antibiotik spektrum luas tiap jam disertai salep mata untuk tidur atau salep mata 4-5 kali sehari. Untuk konjungtivitis gonore, pasien dirawat serta diberi penisilin salep dan suntikan.
Untuk bayi dosisnya 50.000 unit/kg BB selama 7 hari. Sekret dibersihkan dengan kapas yang dibasahi air rebus bersih atau garam fisiologis setiap 15 menit dan diberi salep penisilin. Dapat diberikan penisilin tetes mata dalam bentuk larutan penisilin G 10.000- 20.000 unit/ml setiap menit selama 30 menit, dilanjutkan setiap 5 menit selama 30 menit berikut, kemudian diberikan setiap 1 jam selama 3 hari. Antibiotika sistemik diberikan sesuai dengan pengobatan gonokok. Terapi dihentikan setelah pemeriksaan mikroskopik menunjukkan hasil negatif selama 3 hari berturut-turut.
Prognosis
Konjungtivitis bakteri yang disebabkan oleh mikroorganisme tertentu, seperti Haemophilus Influenzae, adalah penyakit swasirna. Bila tidak diobati akan sembuh sendiri dalam waktu 2 rninggu. Dengan pengobatan biasanya akan sembuh dalam 1-3 hari.
Pencegahan
Untuk mencegah oftalmia neonatorum dapat dilakukan pembersihan mata bayi dengan larutan borisi dan diberikan salep kloramfenikol.




Konjungtivitis Viral
Konjungtivitis viral adalah radang konjungtiva yang disebabkan virus.
Etiologi
Biasanya disebabkan Adenovirus, Herpes simpleks, Herpes zoster, Klamidia, New castle, Pikoma, Enterovirus, dan sebagainya.
Manifestasi Klinis
Terdapat sedikit kotoran pada mata, lakrimasi, sedikit gatal, injeksi, nodul preaurikular bisa nyeri atau tidak, serta kadang disertai sakit tenggorok dan demam. Yang disebabkan Aden ovirus biasanya berjalan akut, terutama mengenai anak-anak dan disebarkan melalui drop let atau kolam renang.
Konjungtivitis herpes simpleks sering terjadi pada anak kecil, memberikan gejala injeksi unilateral, iritasi, sekret mukoid, nyeri, dan fotofobia ringan. Terjadi pada infeksi primer herpes simpleks atau episode rekuren herpes okuler.
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan sitologi ditemukan sel raksasa dengan pewarnaan Giemsa, kultur vi rus, dan sel inklusi intranuklear.
Komplikasi
Keratitis, Virus herpetik dapat menyebabkan parut pada kelopak; neuralgia; katarak; glaukoma; kelumpuhan saraf III, IV, VI; atrofi sarafoptik; dan kebutaan.
Penatalaksanaan
Pengobatan umumnya hanya bersifat simtomatik dan antibiotik diberikan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder. Dalam dua minggu akan sembuh dengan sendirinya. Hindari pemakaian steroid topikal kecuali bila radang sangat hebat dan kemungkinan infeksi virus Herpes simpleks telah dieliminasi.
Konjungtivitis viral akut biasanya disebabkan Adenovirus dan dapat sembuh sendiri sehingga pengobatan hanya bersifat suportif, berupa kompres, astringen, dan lubrikasi. Pada kasus yang berat diberikan antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder serta steroid topikal.
Konjungtivitis herpetik diobati dengan obat antivirus, asiklovir 400 mg/hari selama 5 hari. Steroid tetes deksametason 0,1 % diberikan bila terdapat episkleritis, skleritis, dan iritis, tetapi steroid berbahaya karena dapat mengakibatkan penyebaran sistemik. Dapat diberikan analgesik untuk menghilangkan rasa sakit. Pada permukaan dapat diberikan salep tetrasiklin. Jika terjadi ulkus kornea perlu dilakukan debridemen dengan cara mengoles salep pada ulkus dengan swab kapas kering, tetesi obat antivirus, dan ditutup selama 24 jam.





Konjungtivitis Alergi
Konjungtivitis alergi adalah radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi.
Etiologi
Reaksi hipersensitivitas tipe cepat atau lambat, atau reaksi antibodi humoral terhadap alergen. Pada keadaan yang berat mempakan bagian dari sindrom Steven Johnson, suatu penyakit eritema multiforme berat akibat reaksi alergi pada orang dengan predisposisi alergi obat -obatan. Pada pemakaian mata palsu atau lensa kontak juga dapat terjadi reaksi alergi.
Manifestasi Klinis
Mata merah, sakit, bengkak, panas, berair, gatal, dan silau. Sering berulang dan menahun, bersamaan dengan rinitis alergi. Biasanya terdapat riwayat atopi sendiri atau dalam keluarga. Pada pemeriksaan ditemukan injeksi ringan pada konjungtiva palpebra dan bulbi serta papil besar pada konjungtiva tarsal yang dapat menimbulkan komplikasi pada konjungtiva. Pada keadaan akut dapat terjadi kemosis berat.
Pemeriksaan Penunjang
Pada pemeriksaan sekret ditemukan sel-sel eosinofil. Pada pemeriksaan darah ditemukan eosinofilia dan peningkatan kadar serum IgE.
Biasanya penyakit akan sembuh sendiri. Pengobatan ditujukan untuk menghindarkan penyebab dan menghilangkan gejala. Terapi yang dapat diberikan misalnya vasokonstriktor lokal pada keadaan akut (epinefrin 1:1.000), astringen, steroid topikal dosis rendah dan kompres dingin untuk menghilangkan edemanya. Untuk pencegahan diberikan natrium kromoglikat 2% topikal 4 kali sehari untuk mencegah degranulasi sel mast. Pada kasus yang berat dapat diberikan antihistamin dan steroid sistemik. Penggunaan steroid berkepanjangan harus dihindari karena bisa terjadi infeksi virus, katarak, hingga ulkus kornea oportunistik. Antihistamin sistemik hanya sedikit bermanfaat.
Pada sindrom Steven Johnson, pengobatan bersifat simtomatik dengan pengobatan umum. Pada mata dilakukan pembersihan sekret, midriatik, steroid topikal, dan pencegahan simblefaron.


Selasa, 25 Oktober 2011

CARA PEMERIKSAAN NEUROLOGI


Jenis Pemeriksaan :
  • Cara pemeriksaan Anamnesis.
  • Cara pemeriksaan Kesadaran.
  • Cara pemeriksaan Rangsang Meningeal.
  • Cara pemeriksaan Saraf Kranialis.
  • Cara pemeriksaan sistim Motorik.
  • Cara pemeriksaan sistim Sensorik.
  • Cara pemeriksaan Refleks.



Cara Melakukan Anamnesis
anamnesis yang baik membawa kita menempuh setengah jalan kearah diagnosis yang tepat .
Biasanya pengambilan anamnesis mengikuti 2 pola umum yaitu:
-Pasien dibiarkan secara bebas mengemukakan semua keluhan serta kelainan yang dideritanya.
-Pemeriksa ( dokter ) membimbing pasien mengemukakan keluhannya atau kelainannya dengan jalan mengajukan pertanyaan tertuju.

• “ Keluhan utamanya “ yaitu keluhan yang mendorong pasien datang berobat ke dokter.
• Kemudian ditelusuri tiap keluhan dengan mencari “Riwayat penyakit yang sedang dideritanya.”
• Mulai timbulnya
• Krononologi timbulnya gejala gejala.
• Perjalanan penyakitnya dimana perlu ditanyakan.
– Lokalisasi keluhan atau kelainan.
– Bagaimana sifat keluhan atau kelainan?
– Seberapa kerasnya keluhan atau seberapa besarnya kelainan itu?
– Kapan timbulnya dan bagaimana perjalanan selanjutnya.
– Bagaimana mula timbulnya?
– Faktor-faktor apakah yang meringankan atau memperberat keluhan, gejala atau kelainan?
– Gejala – gejala atau tanda – tanda patologik apakah yang menyertai /mengiringinya?

PEMERIKSAAN KESADARAN
Cara Pemeriksaan Kesadaran Kuantitatif
Pemeriksaan kesadaran dapat dinyatakan secara kwantitatif maupun kwalitatif. Cara kwantitatif dengan menggunakan Glasgow Coma Scale dipandang lebih baik karena beberapa hal.
– Dapat dipercaya.
– Sangat teliti dan dapat membedakan kelainannya hingga tidak terdapat banyak perbedaan antara dua penilai (obyektif ).
– Dengan sedikit latihan dapat juga digunakan oleh perawat sehingga observasi mereka lebih cermat.

Penilaian Glasscow Coma Scale (GCS)


Tindakan
Skala
Nilai
EYE OPENING
Spontan
4

Dipanggil
3

Rangsang Nyeri
2

Diam
1



Tindakan
Skala
Nilai
VERBAL RESPON
Orientasi baik
5

Jawaban kacau
4

Kata tidak patut
3

Bunyi tak berarti
2

Diam
1



Tindakan
Skala
Nilai
MOTOR RESPON
Sesuai perintah
6

Lokalisasi nyeri
5

Reaksi pd nyeri
4

Fleksi (dekortikasi)
3

EKstensi (Deserebrasi)
2

Diam
1


Cara Pemeriksaan Kesadaran Kualitatif
KOMPOS MENTIS : Kesadaran normal



SOMNOLEN : Keadaan mengantuk . Kesadaran dapat pulih penuh bila 
dirangsang . Somnolen disebut juga sebagai: letargi. Tingkat kesadaran ini 
ditandai oleh mudahnya pasien dibangungkan, mampu memberi jawaban 
verbal dan menangkis rangsang nyeri.


SOPOR ( STUPOR ): Kantuk yang dalam. Pasien masih dapat dibangunkan 
dengan rangsang
 yang kuat , namun kesadarannya segera menurun lagi. Ia masih dapat mengikuti 
suruhan yang singkat dan masih terlihat gerakan spontan. Dengan rangsang 
nyeri pasien tidak dapat dibangunkan sempurna. Reaksi terhadap perintah tidak 
konsisten dan samar. Tidak dapat diperoleh jawaban verbal dari pasien. Gerak 
motorik untuk menangkis rangsang nyeri masih baik.


KOMA-RINGAN ( SEMI – KOMA ) . Pada keadaan ini tidak ada respons terhadap 
rangsang verbal. Refleks ( kornea, pupil dsb) masih baik. Gerakan terutama 
timbul sebagai respons terhadap rangsang nyeri. Pasien tidak dapat 
dibangunkan.


KOMA ( DALAM ATAU KOMPLIT). Tidak ada gerakan spontan. Tidak ada 
jawaban sama sekali terhadap rangsang nyeri yang bagaimanapun kuatnya.



PEMERIKSAAN RANGSANG 
MENINGEAL

KAKU KUDUK
Untuk memeriksa kaku kuduk dapat dilakukan sbb:
Tangan pemeriksa ditempatkan dibawah kepala 
pasien yang sedang berbaring, kemudian kepala 
ditekukan ( fleksi) dan diusahakan agar dagu mencapai dada. Selama penekukan diperhatikan adanya tahanan. Bila terdapat kaku kuduk kita dapatkan tahanan dan dagu tidak dapat mencapai dada. Kaku kuduk dapat bersifat ringan atau berat